Kontroversi kehadiran Raffi Ahmad dalam deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran Hotel Indonesia pada 29 Oktober 2026 terus menjadi perbincangan.

Setelah memberikan klarifikasi dan menyampaikan permintaan maaf, Raffi masih mendapat kritik dari sejumlah pihak, termasuk dari kalangan selebritas.

Presenter Sarah Sechan menyoroti alasan Raffi yang mengaku hanya memenuhi undangan dan tidak mengetahui agenda acara secara terperinci.

Menurut Sarah, posisi Raffi sebagai spokesperson atau juru bicara dalam kegiatan itu semestinya membuatnya memahami latar belakang dan tujuan acara sebelum memutuskan untuk tampil di hadapan publik.

"Gini lho, Raffi, Anda tulis klarifikasi bahwa hanya diundang dan tidak tahu detail lebih banyak mengenai acara tersebut. Tapi di acara itu terlihat sebagai spokesperson," tulis Sarah Sechan, dalam unggahan di akun Threads pribadinya, @sarsehshoku.

Bagi Sarah, seseorang yang tampil di depan publik membawa tanggung jawab untuk memahami kegiatan yang diikutinya.

Menurut dia, menerima undangan tidak seharusnya hanya didasarkan pada kesempatan untuk hadir, tetapi juga perlu mempertimbangkan siapa penyelenggaranya, apa tujuan acara, dan pesan apa yang hendak disampaikan.

Sarah kemudian menceritakan kebiasaannya mencari informasi sebelum menerima pekerjaan sebagai pembawa acara.

Ia mengaku selalu berusaha mengetahui konsep kegiatan dan pihak-pihak yang terlibat agar bisa mempertimbangkan apakah undangan tersebut layak diterima.

"Saya setiap diminta jadi pembawa acara selalu tanya detail; siapa yg bikin, konsep acara, siapa yg hadir, apa yang harus disampaikan, rundown acara, siapa pengisi acara, dll," lanjutnya.

"Sarah menegaskan bahwa dirinya tidak selalu menerima setiap tawaran yang datang. Menurutnya, mencari tahu latar belakang kegiatan merupakan bagian dari tanggung jawab profesional, terlebih ketika seseorang akan tampil dan menyampaikan sesuatu di hadapan banyak orang."

"Saya diundang sebagai tamu di acara TV pun selalu tanya apa yang mau dibahas, ada siapa saja di situ. Dan tidak semua acara saya terima..Jadi maksudnya, anda kena prank?" ungkapnya menyindir Raffi Ahmad.

Sarah sendiri menekankan bahwa Raffi masih memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan kembali keikutsertaannya setelah tiba di lokasi.

Menurut dia, seseorang dapat memilih untuk tidak melanjutkan partisipasi apabila menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan informasi awal.

"Nah, setelah itu tetap memutuskan untuk partisipasi dalam acara tersebut dan teriak 'hidup mahasiswa!' ? Bisa lho memutuskan untuk pergi. Itu namanya Integritas. Salam tiga jari," ungkap Sarah Sechan.

Raffi Akui Perlu Lebih Teliti Menerima Undangan.

Di tengah kritik yang bermunculan, Raffi Ahmad telah menyampaikan pernyataan resmi melalui media sosial.

Dalam klarifikasinya, ia menegaskan bahwa kehadirannya dalam deklarasi pada 29 Oktober 2026 merupakan bentuk pemenuhan undangan dari Polda Metro Jaya selaku penyelenggara.

Raffi mengatakan dirinya datang dengan niat baik dan tidak bermaksud merendahkan ataupun mencederai semangat perjuangan generasi muda.

Ia juga menjelaskan bahwa selama ini dirinya berusaha memenuhi undangan dari berbagai pihak, meskipun terkadang hanya bisa hadir sebentar.

Namun, Raffi mengakui bahwa peristiwa tersebut menjadi pengingat penting agar dirinya lebih berhati-hati sebelum menghadiri sebuah kegiatan.

"Saya mohon maaf dari hati saya atas kegaduhan yang timbul dari kehadiran saya. Saya sangat memahami bahwa niat baik tetap perlu disertai ketelitian pada setiap kegiatan yang akan dihadiri," kata Raffi.

Sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi juga menyatakan menghargai berbagai kritik, pandangan, dan saran yang disampaikan masyarakat.

Ia berharap polemik tersebut bisa menjadi bahan pembelajaran bagi dirinya maupun pihak lain.

Polda Metro Jaya Turut Menyampaikan Permintaan Maaf.

Selain Raffi Ahmad, Polda Metro Jaya selaku penyelenggara juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat terkait polemik Deklarasi Sumpah Pemuda 29 Oktober 2026.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyatakan bahwa Raffi dan kreator konten Willie Salim hadir sebagai tamu undangan.

Pihak kepolisian mengakui kegiatan tersebut menimbulkan beragam tanggapan dan menyebut kritik publik sebagai bahan evaluasi.

Polda Metro Jaya juga menyatakan bahwa dugaan adanya peserta yang bukan mahasiswa aktif masih dalam penyelidikan.

Karena itu, persoalan mengenai identitas peserta perlu dibedakan dari kehadiran Raffi yang menurut kepolisian merupakan undangan penyelenggara.