Momentum peringatan Hari Batik Nasional kembali menjadi ajang strategis untuk mengukuhkan identitas budaya sekaligus menggerakkan roda ekonomi kerakyatan secara nyata di Tanah Air. Acara ini diselenggarakan di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, oleh pelopor industri tekstil dan batik nasional Batik Keris bekerja sama dengan Perkumpulan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI). Rangkaian perayaan terpadu bertajuk "Cinta Batik, Cinta UMKM" menghadirkan tiga pilar utama, yaitu peragaan busana (runway), pameran warisan budaya (exhibition), dan aksi sosial (charity).
Tujuan penyelenggaraan acara ini adalah menegaskan posisi batik sebagai entitas fashion yang terus berevolusi, bukan hanya sebagai artefak sejarah yang perlu dilestarikan. Batik diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.
Koleksi Rona Rempah menjadi sajian utama dalam peragaan busana. Batik Keris secara resmi meluncurkan koleksi tekstil eksklusif terbaru yang diberi nama Rona Rempah. Inspirasi koleksi ini berasal dari kekayaan komoditas rempah-rempah Nusantara seperti cengkeh, kecombrang, kemukus, dan kunyit, yang secara historis menjadi daya tarik utama kepulauan Indonesia di mata dunia.
Melalui riset desain yang matang, elemen-elemen komoditas alam tersebut diterjemahkan ke dalam ornamen ragam hias batik modern dengan dominasi rona warna bumi (earth tone) yang elegan. Pendekatan visual kontemporer ini menciptakan keselarasan antara filosofi tradisi masa lalu dan kebutuhan gaya hidup modern melalui busana siap pakai (ready-to-wear).
Inovasi rancangan ini membuktikan bahwa estetika lokal dapat beradaptasi dengan tren global tanpa mengorbankan akar kebudayaan Nusantara. Koleksi ini menunjukkan kemampuan batik untuk tetap relevan dalam industri fashion yang dinamis.
Di samping peragaan busana, ruang pameran (exhibition) dihadirkan untuk memberikan pengalaman edukatif yang lebih dekat dan personal bagi para pengunjung. Eksibisi ini menampilkan rekam jejak eksplorasi motif, keragaman teknik pengerjaan batik tulis maupun cap, serta kehalusan kerajinan tangan (craftsmanship).
Pameran ini juga menampilkan pemanfaatan pewarnaan alami dan sintetis yang berkembang di industri tekstil saat ini. Eksibisi ini menjadi media edukasi publik yang relevan mengingat batik telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2 Oktober 2009.
Melalui visualisasi proses pengerjaan yang rumit dan membutuhkan ketelitian tinggi, eksibisi ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa bangga dan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya mendukung regenerasi para pengrajin batik di berbagai daerah.
Komitmen Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan menjadi salah satu aspek utama dari sinergi antara Batik Keris dan PPLIPI. Seluruh dana yang terhimpun dari rangkaian kegiatan amal akan dialokasikan khusus untuk memperkuat permodalan dan kapasitas operasional UMKM yang berada di bawah binaan PPLIPI.
Sinergi ini menunjukkan bahwa peringatan Hari Batik Nasional tidak hanya sekadar perayaan budaya, tetapi juga momentum untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah. Inisiatif ini mencerminkan tanggung jawab sosial yang dijalankan oleh pelaku industri tekstil.
PPLIPI berperan sebagai mitra strategis dalam memastikan dana amal digunakan secara efektif untuk mendukung UMKM. Keterlibatan organisasi ini memperkuat keterhubungan antara seni budaya dan keberlanjutan ekonomi lokal.
Seluruh kegiatan yang digelar dalam rangkaian perayaan ini dirancang untuk menciptakan dampak berkelanjutan. Dari sisi budaya, acara ini memperkuat penghargaan terhadap warisan Nusantara. Dari sisi ekonomi, inisiatif ini memberikan peluang bagi pelaku UMKM untuk berkembang.
Peran Batik Keris sebagai pelopor industri tekstil nasional terlihat jelas dalam pengembangan inovasi dan kolaborasi dengan organisasi lokal. Keterlibatan mereka dalam acara ini menunjukkan komitmen untuk menjaga keberlanjutan industri batik.
Keseluruhan rangkaian kegiatan ini menjadi contoh bagaimana peringatan Hari Batik Nasional dapat dijadikan platform untuk menggabungkan nilai budaya, inovasi, dan keberlanjutan ekonomi. Dengan pendekatan yang terpadu, acara ini menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat dan industri.
Langkah intervensi ekonomi ini memiliki urgensi yang sangat tinggi mengingat peran vital sektor UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UKM, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbangkan lebih dari 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia serta menyerap sekitar 97 persen dari total tenaga kerja nasional.
Integrasi antara merek besar skala nasional dan para pelaku UMKM daerah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem bisnis yang inklusif, berkelanjutan, serta tahan terhadap tantangan krisis ekonomi global.
Visi CEO Batik Keris untuk Relevansi Tradisi.
Mengenai esensi penyelenggaraan acara serta bagaimana Batik Keris memandang posisi batik dalam panggung kehidupan masyarakat modern saat ini, CEO Batik Keris, Lina Kusyanto Handianto, memaparkan pandangan strategisnya.
"“Batik merupakan bagian penting dari identitas dan perjalanan budaya Indonesia. Melalui perayaan Hari Batik Nasional ini, kami ingin menghadirkan batik dalam ruang yang lebih luas, tidak hanya sebagai warisan yang wajib dijaga, tetapi juga sebagai karya yang terus berkembang dan relevan dengan kehidupan masa kini,"” papar Lina Kusyanto Handianto, CEO Batik Keris.
Aksi Lelang Busana Enam Desainer Ternama.
Implementasi konkret dari komitmen sosial dalam perhelatan ini diwujudkan melalui program Auction for Charity atau lelang busana untuk amal.
Program ini melibatkan partisipasi aktif dari enam desainer papan atas Indonesia, yakni Denny Wirawan, Ivan Gunawan, Priyo Oktaviano, Danny Satriadi, Ayu Dyah Andari, serta Marini Zumarnis, yang masing-masing mendonasikan karya busana rancangan terbaik mereka.
Hasil penjualan dari lelang busana premium ini disalurkan sepenuhnya untuk mendanai program PPLIPI Peduli UMKM, yang difokuskan pada pemberian Bantuan Permodalan bagi pelaku usaha mikro perempuan dan dijadwalkan terealisasi secara merata pada November 2026.
Guna memperluas dampak bantuan, Batik Keris juga menyisihkan sebagian persentase dari hasil penjualan retail produk batik mereka di seluruh jaringan toko fisik maupun toko daring selama masa kampanye perayaan Hari Batik Nasional.
Dorongan PPLIPI bagi Kemandirian Ekonomi Perempuan.
Menanggapi pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun kemandirian finansial bagi kaum perempuan dan pengusaha kecil, Ketua Umum PPLIPI menyampaikan penekanan mengenai prinsip dasar dan visi gerakan sosial yang diusung oleh organisasinya.
"Kami percaya bahwa kepedulian akan menjadi lebih berarti dan efektif ketika dilakukan bersama-sama. Melalui kolaborasi ini, sebagai organisasi sosial dengan visi dan misi pemberdayaan perempuan, kami berharap dapat memberikan manfaat yang nyata sekaligus mengajak lebih banyak pihak untuk ikut berbagi dan menciptakan perubahan positif melalui pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi,"” ujar Dra. Hj. Indah Suryadharma Ali, MBA, Ketua Umum PPLIPI.
Kemeriahan perayaan Hari Batik Nasional ini makin terasa lengkap dengan hadirnya pertunjukan musik panggung yang menghadirkan deretan penyanyi legendaris dan ternama Indonesia, yakni Vina Panduwinata, Cakra Khan, serta Sania.
Kehadiran para maestro musik ini berhasil memberikan sentuhan hiburan yang hangat, harmonis, sekaligus menarik antusiasme ratusan tamu undangan yang terdiri dari insan kreatif, kolektor seni, pelaku bisnis, hingga perwakilan diplomatik.
Perpaduan antara seni pertunjukan musik, seni kriya tekstil, dan gerakan filantropi ini membuktikan bahwa peringatan hari besar kebudayaan nasional dapat dikemas menjadi sebuah gelaran yang menghibur, sarat nilai edukasi budaya, serta mampu menghasilkan dampak modal finansial nyata bagi masyarakat yang membutuhkan dorongan ekonomi.
Rekam jejak dan kapabilitas tinggi dari Batik Keris serta PPLIPI menjadi faktor utama dalam keberhasilan perhelatan ini. Kedua entitas yang saling berkolaborasi ini memiliki kontribusi signifikan terhadap dampak yang diraih.
Batik Keris kini dikelola oleh generasi keenam penerus bisnis keluarga yang telah beroperasi selama 80 tahun di industri fashion nasional. Perusahaan ini memiliki jaringan pemasaran yang kuat dengan lebih dari 125 gerai yang tersebar di Indonesia dan pasar internasional.
PPLIPI, yang didirikan pada 17 April 2016, telah berkembang menjadi organisasi sosial berpengaruh dengan kepengurusan di 14 provinsi dan 50 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Jaringan ini memperkuat peran PPLIPI dalam berbagai inisiatif sosial.
Tiga agenda utama PPLIPI mencakup penyaluran bantuan modal usaha untuk UMKM, peningkatan kualitas hidup ibu dan anak melalui Festival Hari Anak Nasional, serta pemberian apresiasi kepada tokoh wanita inspiratif dalam Women’s Inspiring Award pada peringatan Hari Ibu.
Perayaan Hari Batik Nasional yang diadakan ini berhasil menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan bersamaan dengan aksi pemberdayaan masyarakat. Rangkaian acara seperti peragaan busana, pameran seni, dan penggalangan dana sosial menjadi bukti nyata.
Kolaborasi antara Batik Keris dan PPLIPI tidak hanya terbatas pada acara tahunan, tetapi bertransformasi menjadi gerakan kebudayaan yang berkelanjutan secara sosial dan ekonomi. Inisiatif ini menunjukkan komitmen jangka panjang kedua pihak.
Melalui integrasi antara seni fashion kontemporer, penghargaan terhadap sejarah Nusantara, dan kepedulian terhadap pengusaha kecil, perayaan ini menetapkan standar baru dalam memanfaatkan pergerakan budaya sebagai pilar ekonomi kerakyatan.
Peran Batik Keris dalam mengangkat seni fashion dan PPLIPI dalam kepedulian sosial saling melengkapi untuk menciptakan dampak yang terukur. Kombinasi ini menunjukkan potensi budaya sebagai alat penggerak inklusif.
Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana inisiatif budaya dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing. Dengan menggabungkan tradisi dan inovasi, perayaan ini membuka jalan bagi pergerakan budaya yang berkelanjutan.